#1
Kepuhunan mitos atau fakta?


[Image: 18888693_131341594107856_1148423363882909696_n.jpg]

KEPUHUNAN (dialek Banjar dibaca kepohonan) merupakan Folk Belief (mohon diluruskan jika salah) atau kepercayaan masyarakat lokal bahwa ketika seseorang ditawarkan makanan, sebaiknya pihak yang ditawarkan haruslah “nyantap” atau mencicipi secuil sedikit makanan yang ditawarkan tersebut. Jika tidak dilakukan orang, maka diyakini akan terjadi sesuatu yang buruk akan menimpa orang yang tidak nyantap tersebut. Sesuatu yang buruk yang dimaksud mungkin berupa kecelakaan, musibah, atau dihubungkan dengan gangguan atau “penampakan” makhluk halus.

Specially, makanan atau minuman yang sangat bertuah dan “wajib” disantap berupa ketan, nasi kuning, dan kopi. Tetapi menurut keyakinan lokal, tetap… hampir semua makanan bisa mengakibatkan “kepuhunan”. Pada prakteknya, penduduk lokal otomatis akan menawarkan makanan yang akan dia makan, dan yang ditawari “harus” nyantap (mencicipi) sedikit makanan yang ditawarkan tersebut. Jika makanan yang ada tersedia cukup banyak, jika kita suka, kita bisa mengambil sepotong dua atau yahhh… seperti bertamu biasanya…. Jika kita tidak ingin makan karena sesuatu hal, maka kita bisa “nyantap” saja. Misalnya si A sedang makan pisang goreng, didekatnya ada si B, maka sebelum menggigit si A akan menawarkan si B untuk “nyantap”. Maka si B akan mencuil sedikit (benar-benar secuil bahkan tidak akan terasa dilidah, karena hanya untuk menghindari kepuhunan tersebut) pisang goreng tersebut.

Kejadian unik, ketika saya pertama kali meginjakkan kaki di bumi Kalimantan, kira-kira sepuluh tahun yang lalu. Ketika dijemput teman di pelabuhan, saat itu teman saya sedang akan makan makan pisang goreng. Seperti biasanya sesuai kebiasaan, dia menawarkan saya untuk “nyantap” (maksudnya secuil aja), karena ketidaktahuan saya, tanpa dosa, saya ambil sepotong pisang goreng yang ada ditangan teman saya tersebut. Bagi saya waktu itu, saya menghargai, pemberian teman saya itu. Saya bahkan tidak sempat memperhatikan betapa terbengongnya teman saya, ketika saya mengambil sepotong pisang goreng yang ada ditangannya, yang seharusnya cuma “nyantap”. Saya tertawa lebar ketika sampai di rumah, teman saya dan keluarga bercerita tentang “kesalahan” saya tersebut…..

Masyarakat modern menilai hal ini sebagai tidak ilmiah, irrasional, atau tahyul. Meskipun kadang hal ini benar terjadi. Berkaitan dengan “kepuhunan” ini, suatu saat mertua saya bercerita tentang kecelakaan yang mengakibatkan vespa nya hancur, hingga mesinnya terbelah. Menurut dia, itu terjadi selepas pulang bertamu, disuguhi kopi, dan dia tidak “nyantap”. Maka terjadilah “kepuhunan” itu. Bahkan dia dengan penuh semangat menceritakan beberapa kejadian lain yang sejenis, yang berhubungan sengan “kepuhunan”

Sadar atau tidak sadar, kadang mitos dan kepercayaan masyarakat lokal, sarat akan kearifan lokal. Mengandung unsur-unsur keharmonisan antar sesama manusia dan manusia dengan alam lingkungannya. Saya menulis ini semata-mata hanya ingin “memotret” budaya kepercayaan masyarakat lokal Kalimantan Timur ( mungkin kalimantan selatan juga). Saya rasa tidak perlu dipertentangkan dengan nilai-nilai lain, biarlah budaya lokal ini menjadi kekayaan budaya nusantara.
Reply
#2
percaya gak percaya..
Reply
#3
masih menjadi rahasi
Reply
#4
Jangan macem2 sama kepuhunan..percaya gak percaya tapi itu terjadi
Reply

Forum Jump: