#1
[Image: beach-house-balikpapan.jpg?w=710]

Bosan nongkrong atau jalan-jalan ke mal? Tak perlu pusing, kini banyak kafe-kafe di penjuru Kota Balikpapan untuk melepas penat dari rutinitas sehari-hari. Ada kafe yang menawarkan pesona keindahan pantai, sampai yang beroperasi 24 jam.
1. Beach House Restaurant
Meski letaknya berada di pinggiran kota, Beach House Restaurant tak pernah sepi dari pengunjung. Terutama menjelang sore hingga malam hari. Baik warga lokal hingga ekspatriat sering menjadikan restoran sekaligus cafe ini sebagai tempat melepas penat. Apalagi memang yang menjadi daya tarik restoran yang berada di kawasan Batakan, Balikpapan Timur, itu memang menjual pemandangannya yang eksotik.
The Beach House memang merancang restoran dengan konsep di area terbuka. Meja dan kursi disusun di lahan beratapkan pohon rindang. Penataan lampu yang digantung di pepohonan menambah menarik suasana. Apalagi view pantai dengan deburan ombak serta sunset yang menawan, menjadikan para pengunjungnya betah berlama-lama nongkrong di sana.
Beragam fasilitas juga disediakan, seperti meja biliar hingga alunan musik yang membuat pengunjung semakin santai. Memang harga menu-menu yang ditawarkan cukup tinggi, namun dengan segala fasilitas dan pemandangan yang ditawarkan, rasanya tak rugi sama sekali.

2. Coffe Loffe
Bagi yang mengaku pencinta sepak bola, khususnya Madridista (fans Real Madrid, Red.) dan Internisti (fans Inter Milan, Red.), tentunya tahu dengan kafe yang satu ini. Dibuka sejak 24 Juni tahun lalu, Coffe Loffe tak pernah sepi dari pengunjung. Apalagi pada Jumat dan Sabtu malam.
Selain rutin menyajikan hiburan live musicaccoustic, sang pengelola, Yan Bonardo juga rajin menggelar nonton bareng. “Saya sendiri juga penggemar Inter Milan, jadi ketika ada Internisti yang izin nonton bareng di sini, ya saya senang sekali,”  katanya. Sejak saat itu, Coffe Loffe seperti menjadi base camp dari para Internisti.
selain Internisti, para pencinta dari klub raksasa Spanyol, Real Madrid juga menjadi pelanggan setia. Madridista, sebutan penggemar Real Madrid, rutin berkumpul di Coffe Loffe setiap Jumat malam.
“Yang penting tidak dalam satu liga. Jadi tidak mungkin saya menerima Internisti dan Milanisti sekaligus,”  katanya.
Mengenai jadwal buka, Yan Bonardo mengatakan dimulai pada pukul 18.00 Wita. “ Kalau tutupnya fleksibel mas, kadang sampai matahari muncul baru bisa tutup. Terutama ketika Real Madrid lagi main lawan tim bagus, trus jadwal mainnya jam 5 pagi. Pasti baru bisa tutup jam 8 pagi,” kata pria yang akrab disapa Yan tersebut.
Baginya, menggeluti usaha di bidang kafe atau tempat nongkrong masih mempunyai prospek yang bagus. Bahkan beberapa hari yang lalu, Yan membuka kafe baru namun dengan brand yang berbeda.
Ia menambahkan, untuk membuka Coffe Loffe, Ia merogoh kocek sekira Rp 100 juta. Sedangkan kunci suksesnya adalah dengan menjual produknya sendiri. “Jadi kita tidak menjual merek orang lain. Semua yang kita jual disini adalah buatan kami sendiri kecuali air mineral,” katanya.

3. Red Sea Cafe
Gaya hidup merokok ala Timur Tengah atau yang disebut Shisha, satu di antara yang menjadi daya tarik sebuah cafe. Misalnya, Red Sea Cafe di kawasan Kompleks Ruko Bandar, Klandasan. Sejak hadir tiga tahun silam, kafe yang satu ini menawarkan konsep kafe snack, shisha, dan tea house. Yang paling khas dan diunggulkan, adalah shishanya.
Para komunitas shisha sangat sering nongkrong di sini. Ada 12 bong shisa. Mulai rasa  beraneka buah sampai cappuccino dan coffee. Shisha sendiri sangat potensi menarik sebuah pelanggan, karena belum banyak cafe yang menyajikannya. Harga yang ditawarkan, satu bong shisha Rp 60 ribu. Bagi komunitas shisa dan masyarakat awam yang belum mengerti menggunakannya, para pelayan siap memandu.
“Cara nariknya umpamanya menggunakan air dengan sedotan, kayak minum. Ditarik dengan napas perut, jadi tidak seperti menghisap rokok pada umumnya. Kalau tak begitu kurang nikmat. Dan shisha tak akan batuk,” kata Bernard Mawea, pramusaji Red Sea Cafe.
Cafe dengan dua lantai ini, juga menyediakan. Aneka makanan berfariasi, mulai Rp 18 -40 ribu. Dimulai buka sejak 18.00 Wita sampai 01.00 Wita. Kafe ini ramai dikunjungi sekadar untuk kencan atau kongkow-kongkow bersama rekan-rekan.

4. Barometer Coffee
Satulagi kafe unik berdiri di Kota Beriman ini, yakni kafe Barometer Coffee. Kafe yang baru soft opening pada 23 April 2012 lalu, itu terletak di Jalan Wiluyo Puspoyudo. Menawarkan berbagai macam menu spesial seperti Singkong Meletus, Pisang Pasir, dan aneka makanan berat lainnya, seperti Sapi Lada Hitam dan Nasi Goreng Spesial Barometer.
“Untuk Singkong Meletus, merupakan olahan dari 3 bumbu rahasia, dan pisang pasir diolah dengan tepung basah dan tepung roti,” kata Haerul, pengelola Barometer Coffee.
Selain menu yang cukup unik, kafe ini juga menyajikan kopi yang berasal dari seluruh daerah di Inonesia mulai dari kopi asli Gayo hingga kopi asli Flores. Harga yang ditawarkan pun cukup terjangkau dengan harga sekira Rp 20 ribuan, pengunjung dapat menikmati menu spesial dari kafe ini.
Dengan karyawan sebanyak 13 orang ini, kafe Barometer Coffee melayani sekira 150 orang pengunjung setiap harinya. Jumlah kursi yang ditawarkan pun cukup banyak yakni 70 kursi yang terbagi atas 50 kursi outdor dan 20 kursi indoor. Tersedia pula fasilitas WiFi untuk internetan.
Kafe yang buka pada pukul 10.00 Wita, ini biasa tutup paling lambat pukul 05.00 Wita. “Paling cepat kita tutup jam 02.00 Wita, paling lama jam 05.00 Wita,” katanya.


JADI SUMBER PAD

Di Kota Minyak, sebutan Kota Balikpapan, menjamurnya kafe mulai medio 2000. Tercatat kurang lebih ada 30 kafe, dengan kemasan beragam dengan keunggulannya masing-masing. Mulai sekadar tempat ngopi, nonton bareng, biliar, shisha, hingga suasana outdoor dengan alunan live music.
Pemkot balikpapan mengatur keberadaan kafe-kafe itu dengan Perda No 5 Tahun 2010 tentang Pajak Restoran. Objek pajaknya, segala sesuatu yang menawarkan  usaha jasa boga dan katering, dan cafe diatur di dalamnya sebagai wajib pajak.
Perkembangan cafe sendiri turut andil di dalamnya. Tahun ini, Pemkot menargetkan Rp 22 miliar dari sumber pajak itu. Dan hingga triwulan I, realisasi pajak telah mencapai 48 persen. Kepala Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Balikpapan, Oemy Facessly mengatakan, pajak restoran paling tinggi CapaianNya.
“Insya Allah, target ini akan tercapai hingga akhir tahun nanti,” katanya. Jumlah itu belum semua mengakomodir jumlah wajib pajak.  Saat ini yang terdata sebanyak 341 restoran/rumah makan. Disimpulkannya, bidang jasa restoran, termasuk kafe berpotensi tumbuh berkembang dengan cepat. (kaltim post)

Reply
#2
ulun pernah ke Coffe Loffe wal,tempatnya enak,nyaman,harganya un gak terlalu ngekuras kantong Paham
Reply
#3
(22-08-2016, 01:46 AM)eko Wrote: ulun pernah ke Coffe Loffe wal,tempatnya enak,nyaman,harganya un gak terlalu ngekuras kantong Paham

Ente sama siapa wal ,,,,sama pacar ya?? Ngeces
Reply
#4
bikin kopdar regional balikpapan yuk Duit
Reply
#5
Beach House Restaurant kayaknya enak tuh tempatnya, outdoor furniture sama viewnya meyakinkan banget buat kongkow sekaligus menikmati pemandangan disekitar.

Nanti kalau ada acara kerja keluar kota ke balikpapan, kapan-kapan mau nyoba restoran ini ah bareng anak kantor atau client :D
Sedia Outdoor Furniture & Patio Furniture Cushions yang berkualitas dan tahan lama.
Reply
#6
(09-05-2017, 03:14 PM)outdoorfurniture Wrote: Beach House Restaurant kayaknya enak tuh tempatnya, outdoor furniture sama viewnya meyakinkan banget buat kongkow sekaligus menikmati pemandangan disekitar.

Nanti kalau ada acara kerja keluar kota ke balikpapan, kapan-kapan mau nyoba restoran ini ah bareng anak kantor atau client :D

BTW domisili kamu dimana? , mampir ke samarinda nanti saya bawain amplang. Love
Reply

Forum Jump: